header umma faha

Tidak Masuk Surga

Posting Komentar
Assalamu'alaikum.

Setelah sekian lama, umma akhirnya ingin menulis jurnal faha lagi. Hal ini dikarenakan kejadian tadi sore, yang tanpa sadar umma dengan dari FaHa.

Hari ini suami pulang cepat dan mengajak FaHa bermain ke taman. Umma sedang setrika ketika mereka kembali. Umma yang berada di tengah lautan mainan. Mainan yang kaka Fa janjikan dibersihkan paska tidur siang tinggalah janji.

Sesampainya dirumah mereka bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Namun keduanya minta tolong ke umma karena masih kesusahan melepas pakaian mereka. Ketika umma membantu kaka Fa, adik Ha ingin merapikan botol minum kaka ke atas meja.

Namun karena ketidaksengajaan adik Ha, botol kaka malah terjatuh dan tumpah. Suami kaget dan merespon dengan teriakan. Alhamdulillah adik Ha lebih terlatih menangani kejadian mendadak dibandingkan bapaknya.

"Adik tidak sengaja ya?" Tanya umma.

Umma mencoba menengahi dua laki-laki yang sedang berdebat. Meski adik Ha sempat terdiam, dia mampu menjelaskan kronologi kejadian dengan tenang. Umma salut tidak ada emosi berlebihan maupun tangis darinya.

Berbeda dengan bapaknya yang masih ngomel karena adzan maghrib mulai menjelang. Begitulah salah satu ujian pernikahan umma. Ketidakmampuan suami berserta keluarga berkomunikasi menjadi salah satu ujian terberat umma.

Jika biasanya laki-laki mengeluh karena tidak mampu menerka kode sandi morse wanita. Umma malah mengalami kondisi sebaliknya. Suami lalu mengambil kain untuk membersihkan sisa tumpahan air tersebut.

Umma melanjutkan membantu adik Ha agar bisa segera cuci tangan, kaki dan muka segera. Umma sudah melatih anak-anak untuk mandiri sejak menjalani toilet training. Hasilnya ternyata luar biasa ketika memasuki usia mereka 3.5 tahun ke atas.

Meski dengan banyak kekurangan, namun umma salut atas hasil dan kerja kerasa keduanya. Mereka sudah bisa mengatur diri sendiri atas kebutuhan mereka masing-masing. Selepas bersih-bersih mereka akan memilih pakaian yang ingin dikenakan sendiri.

Sesekali mereka akan menggunakan sendiri. Namun ya butuh waktu dan kesabaran untuk menunggu dan membimbing. Jika umma butuh cepat, untuk mengurangi burn out umma memilih membantu mereka agar sat set.

Hal itu lah yang menyebabkan umma suka curhat di blog ini. Biar 20.000 kata ini keluar dengan cara yang benar. Biar ngomel pada FaHa berkurang dan lebih sabar karena sudah capek ngetik. Hehe. Atau malah malas ngeluh dan tidak merespon suami jika melakukan silent treatment.

Sembari menyelesaikan setrikaan mereka duduk di belakang umma sembari membagikan jajan yang mereka beli. Keduanya asik mengobrol sambil mencocol cimol di tangan masing-masing.

"Gimana tadi yah, jadi kemana?" Tanya umma pada suami
"Ya ke taman." Jawabnya singkat tak solutif yang selalu keluar dari mulutnya.
"Ke taman dekat toko?" Tanya umma memperjelas.
"La iya mau kemana lagi." Tujuh tahun pernikahan begini buruknya komunitas kami
"Maksud bunda adalah yah, tadi kan bangun jam 4, lalu anak-anak baru selesai 4.15, sedangkan taman disana kan jam 5 udah tutup." Umma menghela nafas.
"Jadinya apa anak-anak sempat main?" Umma melanjutkan pertanyaan.
"Oh." Nada kaget yang biasa dia ekspresikan ketika lawan bicaranya bermaksud hal berbeda dengan isi pikirannya.
"Main kok, kan tutupnya jam setengah 6an." Lalu menjawab dengan sedikit nada tersenyum dan tertawa kecil.
"Alhamdulillah kalo gitu, anak-anak bisa main lumayan berarti." Jawab umma sedikit puas.

Begitulah komunikasi kami selama ini, hal-hal kecil ini berulang layaknya sebuah pola. Ketika pandemi ada suatu kejadian karena komunikasi kami yang buruk. Suami sempat mengalami kejadian tidak menyenangkan. Kejadian itu menyebabkan kerugian karena umma sebagai pasangan jarang dilibatkan untuk diskusi.

Diskusi selalu menjadi momok untuk suami. Dahulu umma selalu menangis jika diskusi berakhir dengan diam tanpa solusi. Lalu beberapa hari berakhir menjadi silent treatment.

Setelah resign dan tinggal dirumah sejak kehamilan anak pertama, umma tahu jelas penyebabnya. Komunikasi yang buruk ini juga terjadi pada kedua orang tua umma. Bahkan dalam minggu ini umma sempat kaget dengan pertanyaan kaka Fa.

"Ma, berarti kakek nenek gak bisa masuk surga ya?" Tanya kaka Fa tiba-tiba selepas sholat. Umma sangat kaget bukan kepalang
"Memangnya kenapa kok kakek nenek tidak bisa masuk surga kak? Tanya umma mengklarifikasi.
"Kata mama, kaka adik gak boleh bertengkar, Allah gak suka, nanti gak masuk surga." Jawab kaka membuat umma tambah kaget.
"Lah emang kakek nenek habis bertengkar? Kapan mama kok gak tahu?" Umma coba konfirmasi ulang
"Waktu mama ke toko, malam-malam kakek nenek bertengkar." Jawab kaka lagi.
"Ya bener Allah gak suka orang bertengkar, harus ngomong baik-baik, pelan-pelan, makanya kaka harus ngomong yang jelas, biar temennya gak bingung kaka ngomong apa." Umma mencoba menjelaskan kembali.

Pertengkaran memang sering terjadi pada mertua. Hal ini ya karena komunikasi keduanya tidak bagus. Jika ada waktu berdua lebih banyak diam dengan pikiran mereka masing-masing. Begitu pula saat menonton TV bersama tidak ada diskusi yang bisa membangun bonding antara keduanya.

Bapak mertua lebih banyak menghabiskan waktu malam begadang hingga subuh. Jatah katanya dihabiskan dengan mengobrol banyak hal dengan orang lain disaat tersebut. Ketika pagi dan siang hari diisi dengan tidur sepanjang hari.

Alhasil ibu mertua dan suami jarang berkomunikasi. Hal tersebut yang menjadi gambaran suami atas komunikasi sebuah pasangan yang salah.

Umma makanya getol mengangkat tema parenting khususnya isu fatherless. Apalagi bahasa cinta FaHa berbeda. Kaka Fa lebih banyak verbal ketika emosi dengan kata-kata khusus. Sedangkan adik Ha lebih memilih diam seribu kata persis suami.

Melanjutkan kejadian perkara botol, selepas setrika umma masuk ke kamar menata pakaian. Suami baru keluar dari kamar mandi dan segera bersiap-siap pergi ke mushola. Umma sekali lagi ingin menegaskan pentingnya komunikasi.

"Ayah, malam mau makan apa?" Tanya umma
"Yang ada aja." Jawab yang seakan pasrah tapi biasanya berujung ngomel atau ngedumel.
"Yang jelas lauknya adanya telor, tahu tempe ada, sayur toge, wortel dan buncis juga ada tapi belum masak."
"Hmm, eh kayaknya Ayah habis jamaah ada undangan." Jawabannya mulai membuka diri.
"Oh iya ya, ini malam jumat, ya udah nanti kalo berkat alhamdulillah, kalo enggak ya.. " Umma merespon namun belum selesai sudah disela.
"Iya, lihat nanti malam aja." Jawabnya pasti.
"Ya gitu, kalo ditanya merespon yang jelas, begini loh pentingnya komunikasi." Sembari menata kembali pakaian dalam lemari. Lalu di respon dengan kepergiannya tanpa kata.

Lalu umma juga menghambur keluar untuk beres-beres ke dapur. Umma berniat untuk mengisi kembali air minum ke dalam botol kaka. Ternyata saat umma amati botol tersebut pecah. Umma kemudian menghampiri FaHa yang masih asik makan cimol.

"Ka, botol kaka ternyata pecah, udah gak bisa dipakai lagi." Umma menjelaskan sembari menunjukkan bagian yang pecah dihadapan mereka.
"Ka, beli baru aja nanti ya sekalian cari yang ada sedotannya untuk sekolah, gimana? Tanya umma lagi.
"Pakai ya satunya aja ma, kan kaka masih punya." Kaka malah mengingatkan tentang yang umma beli online. Kedua masih kesusahan membuka tutup model flip.
"Oh iya bener kak, makasi ya kak, mama lupa." Berjalan ke kembali ke dapur untuk mengecek keberadaan botol.

Kaki belum sempat melangkah, umma mendengar percakapan keduanya yang membuat air mata umma sempat berderai.
"Kaka, adik minta maaf ya, tadi gak sengaja jatuhin botol kaka, padahal adik mau naruh botolnya ke meja mama, maafin ya kaka." Ucap adik beberapa kali.
"Iya dik. " Jawaban kaka hanya terdengar itu saja selebihnya kaki umma sudah makin menjauh.

MasyaAllah tabarakallah keduanya bisa saling toleransi dan berkomunikasi dengan baik. Beberapa kali umma juga mengatakan sesuatu kepada suami.

"Jika kamu tidak punya contoh komunikasi yang baik dengan pasangan, gak papa aku yang pahami kamu, asal kamu bisa komunikasi dengan anak-anak."

Umma juga bukan manusia sempurna. Tangan ini dahulu sering menyasar paha kaka Fa. ketika usianya dibawah 2 tahun kami tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Apalagi saat itu beban pengasuhan hanya pada salah satu pihak.

Hanya saja tahun ini, rasanya harus ada tindakan tegas. Apalagi paska suami memilih keluar dari pekerjaannya. Serta sifat menetap akan terjadi dua tahun lagi saat usianya memasuki 40 tahun.

Umma hanya berharap tidak ada lagi perceraian yang berkedok beda visi misi seperti yang terjadi pada Ari Wibowo dan Inget Anugrah ataupun Desta dan Natasha Rizki. Semoga Allah berikan umma sabar untuk terus bersemangat memahamkan suami untuk sama-sama terus belajar.

Pasangan maupun anak adalah titipan. Umma tidak pernah tahu sampai kapan kami bersama. Umma sejauh ini sudah berusaha, dan bersyukur apa yang diusahakan sudah memperlihatkan hasil pada anak-anak.

Jikalau usia umma tidak panjang, apa yang umma sudah lakukan insyallah sudah menjadi bekal mereka. Umma juga yakin Allah akan melindungi dan menetapkan takdir baik untuk FaHa.

Melow ya umm, yap sejak pandemi kalo bahas anak selalu begini. Apalagi kemarin sempat sakit selama seminggu. Asam lambung umma kambuh setelah sekian purnama. FaHa tidak terurus terutama dalam hal makanan.

Umma nekat bangun pada hari ke dua. Rumah berantakan pekerjaan menumpuk. Lalu jatuh kembali di hari ketiga. Hehe.

Demikian sampah emosi yang ingin umma keluarkan hari ini. Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik. Buang-buang kejelekan. Walaikumsalam.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar